21 June 2011

Wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Hurairah RA

Rasulullah memberikan wasiatnya pula kepada Abu Hurairah yang antara lain :
Hai Abu Hurairah! Apabila engkau bersetubuh dengan istri dan hamba sahayamu maka ucapkanlah “Bismillah wal Hamdulillah”. Apabila engkau selalu memperhatikan hal ini, engkau akan beroleh kebajikan-kebajikan sampai engkau mandi junub. Apabila engkau telah selesai mandi junub, maka Allah mengampuni dosa-dosamu. Tetapi jika engkau beroleh anak sebagai hasil senggama itu, maka telah dituliskan kebajikan untukmu sebanyak kali nafas anak itu keluar, dan dihapuskan dosamu.


Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau jadikan hamba sahaya (pembantu rumah tangga)mu sedemikian takut kecutnya kepadamu. Ingatlah jika engkau mati sedang berbuat hal yang demikian itu niscaya engkau akan dituntut di hadapan Allah.

Hai Abu Hurairah! Jangan sekali-kali engkau meninggalkan (mencerai) istrimu, melainkan sedang ia berada di rumahnya, jangan sekali-kali memukulnya dan mencaci-makinya kecuali demi untuk kepentingan urusan agamanya. Jika engkau berlaku demikian, di dunia engkau berjalan di jalan raya, sedang di akherat akan dibebaskan Tuhan dari sentuhan api neraka.

Hai Abu Hurairah! Singkirkanlah duri dari jalan yang akan dilalui orang yang lebih mulia daripadamu, yang lebih kecil daripadamu, lebih baik daripadamu dan bahkan orang yang lebih uruk daripadamu. Jika engkau berbuat demikian, nisaya Allah membanggakan engkau kepada para malaikat-Nya. Dan barangsiapa yang dibanggakan Allah kepada para malaikat-Nya, niscaya ia muncul pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala yang buruk.

Hai Abu Hurairah! Sekiranya engkau menjadi Raja (Kepala Negara) atau menjadi menteri Raja, atau datang menghadap kepada Raja atau menjadi penasehat Raja, maka janganlah engkau melampaui sirah dan sunnahku. Karena sembarang Raja manapun atau menteri Raja manapun, atau siapa pun yang datang menghadap kepada Raja atau penasehat Raja yang menyalahi sirah dan sunnahku, dia akan dating pada hari Kiamat di kepung api neraka dari segala penjuru.

Hai Abu Hurairah! Adil sesaat itu lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun lamanya, yang malamnya berisi dengan shalat malam dan siang harinya dengan ibadah puasa.

Hai Abu Hurairah! Katkanlah kepada orang-orang yang beriman yang pernah melakukan dosa-dosa kecil ataupun besar: janganlah mati salah seorang pun di antara mereka sedang ia masih bergelimang dengan dosa-dosa itu. Karena barangsiapa yang menghadap kepada Tuhannya dalam keadaan yang demikian itu, maka siksaaan atas dosa kecil yang terus-menerus dilakukannya itu sama halnya dengan orang yang menghadap Tuhannya dalam keadaan berdosa besar yang terus menerus dikerjakannya pula.

Hai Abu Hurairah! Sesungguhnya, bahwa engkau menghadap Tuhanmu dengan membawa dosa besar yang engkau telah tobat daripadanya lebih baik bagimu daripada engkau menemui-Nya pada hal engkau telah mempelajari (menghafal) ayat-ayat Al-Qur’an kemudian engkau melupakannya.

Hai Abu Hurairah! Janganlah sekali-kali engkau melaknat (mengutuk) para pemimpinmu (Islam), karena Tuhan akan memasukkan suatu umat ke dalam neraka Jahanam dengan tersebab mereka telah mengutuk para pemimpinnya.
Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau senang mencaci maki kecuali terhadap setan. Sesungguhnya jika engkau mati dalam keadaan yang demikian, tanganmu kelak akan dijabat (disalami) oleh semua Rasul Allah, para Nabi Allah dan orang-orang beriman sampai engkau melangkah ke dalam sorga.
Hai Abu Hurairah! Berilah makan kenyang anak yatim dan janda, dan berlakulah sebagai bapak yang pengasih penyayang bagi anak yaim, dan berlakulah sebagai suami yang penytantun terhadap wanita janda, niscaya engkau akan deberi ganjaran pada setiap tarikan nafas yang engkau nafaskan selam hidup di dunia dengan sebuah mahligai did lam surga. Setiap mahligai lebih baik dari dunia ini dengan segala keindahan yang ada padanya.

Hai Abu Hurairah! Berjalanlah engkau ke Masjid Allah di dalam kegelapan malam, niscaya engkau akan dieri Tuhan kebajikan-kebajikan dengan setimbang berat sesuatu yang telah engkau pijak dengan kedua kakimu dari apa-apa yang engkau cintai dan enci sampai kepada tujuh petala bumi.

Hai Abu Hurairah! Hendaklah engkau jadikan masjid-masjid, ibadah Haji dan ‘Umrah serta Jihad fi Sabilillah sebagai pusat perhatianmu. Sesungguhnya jikalau engkau mati dalam keadaan yang demikian itu, maka Allah Swt akan menyeberangi Siratal Mustaqim, dan Dia berbicara dengan engkau di dalam surga.

Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau membentak orang fakir niscaya engkau dihardik pula oleh Malaikat pada hari Kiamat.

Hai Abu Hurairah! Janganlah marah bila dikatakan orang kepadamu: “Takutlah kepada Allah!” Padahal engkau telah bermaksud untuk melakukan kejahatan. Jika engkau melakukannya, maka ganjaran perbuatanmu itu adalah api neraka.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang dikatakan orang kepadanya: “Takutlah kepada Allah!” sedang ia marah terhadap hal itu niscaya ia akan disuruh berdiri pada hari kiamat di suatu tempat di mana setiap ada Malaikat yang lewat ia akan bertanya kepada orang itu: Engkaukah gerangan orang yang bila dikatakan kepadanya: Takutlah kepada Allah, ia menjadi marah? Padahal sikap yang demikian akan mencelakaknnya sendiri. Oleh sebab itu jagalah dirimu dari bencana-bencana hari kiamat yang menimpamu!

Hai Abu Hurairah! Berbuat kebajikanlah dengan apa yang elah dikaruniakan Tuhan kepadamu. Karena barangsiapa yang berlaku jahat (menyalah gunakan apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya) maka sesuatu itu akan merintanginya kelak di atas titian Siratal Mustaqim dengan bergantung kepadanya. Betapa banyaknya orang mukmin yang diseret ke titian Siratal Mustaqim sebagai pembalasan (qishash)!

Hai Abu Hurairah! Hendaklah setiap mukmin melakukan shalat di waktu tengah malam walaupun sekedar memerah susu kambing (sebentar). Dan barangsiapa yang mengerjakan sembahyang malam karena mengharapkan ridha Tuhan niscaya Allah rela kepadanya dan menyampaikan hajat maksudnya di dunia maupun di akhirat. Maka menukaslah Abu Hurairah dengan bertanya: “Ya Rasul Allah! Pada saat-saat malam yang manakah sembahyang itu lebih afdhal?” “Pada pertengahan malam,” jawab Rasulullah.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau mampu menghadap Tuhan dengan punggung yang ringan (tanpa beban) karena tak ada sangkut paut dengan urusan darah kaum muslimin, harta benda mereka dan kehormatan mereka, maka cobalah berbuat demikian, niscaya kelak engkau menjadi awal orang yang dihampiri Tuhan (muqarrabin).

Dan janganlah engkau jadikan seseorang di antara makhluk Allah sebagai peranara dengan Tuhan Al-Khalik, maka kelak Allah menjadikanmu pula sebagai perantara dari bencana api neraka jahanam pada hari Kiamat.

Hai Abu Hurairah! Apabila disebut-sebut orang neraka Jahanam, maka mohonlah kepada Tuhan supaya engkau dijauhkan darinya, dan hendaklah hati dan jiwamu meratap karenanya dan bulu romamu meremang karenanya, niscaya Allah akan menjauhkanmu darinya.

Hai Abu Hurairah! Apabila engkau rindu kepada Surga, maka mintalah supaya engkau mendapat bagian darinya. Dan hendaklah hatimu lunak-lembut karena merindukannya, dan kedua air matamu menetes dalam keadaan engkau percaya kepada-Nya, niscaya kelak Allah Swt. Memberikan surga itu kepadamu dan Dia tidak akan menolak permintaanmu.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau bermaksud ntuk tidak berpisah dengan aku pada hari Kiamat sehingga engkau tetap bersamaku dalam surga, maka cintailah aku dengan rasa cinta sedemikian rupa sehingga engkau tidak dapat melupakan aku. Relalah engkau dengan rezeki yang dikaruniakan Tuhan, karena barangsiapa yang meninggalkan dunia ini padahal ia rela dengan pembagian yang telah diberikan Tuhan kepadanya, maka ia berpulang kea lam baka dengan kerelaan Tuhan pula. Dan barangsiapa yang Tuhan rela kepadanya, maka surgalah tempat kembalinya.

Hai Abu Hurairah! Suruhlah orang berbuat kebajikan dan laranglah ia berbuat yang mungkar. Abu Hurairah bertanya: “Bagaimana aku melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar?” “Beritahukan manusia tentang kebajikan itu dan ajarkanlah kebajikan itu kepada mereka,” jawab Rasulullah. Dan apabila engkau melihat orang melakukan perbuatan maksiat, kepada cambuk dan pedangnya, janganlah engkau peri membiarkan orang itu sebelum engkau berkata kepadanya: “Takutlah engkau kepada Allah!”

Hai Abu Hurairah! Pelajarilah Al-Qur’an dan kemudian ajarkan pulalah Al-Qur’an itu kepada orang banyak sampai engkau meninggalkan dunia ini, dan senantiasalah engkau berbuat demikian. Jika demikian halmu akan berdatanglah para malaikat ke kuburmu dan mereka memberi selawat dan memohonkan ampun bagimu sampai hari Kiamat seperti halnya orang-orang beriman beramai-ramai pergi haji ke Baitullah ‘Azza wa Jalla.

Hai Abu Hurairah! Temuilah kaum Muslimin dengan wajahmu yang cerah dan berjabatan tanganlah dengan mereka dengan mengucapkan salam. Jika engkau mampu berbuat demikian di mana saja engkau berada, maka sesungguhnya para Malaikat tetap bersamamu selain untuk menjaga keselamatan engkau, mereka juga memohon ampunan untuk engkau. Ketahuilah! Barangsiapa yang wafat meninggalkan dunia ini di bawah permohonan ampun para Malaikat, niscaya Allah memberi ampun bagi dosanya.

Adapun pertolongan-Nya di dunia ini ialah, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengganggunya, melainkan para malaikat membohongkan mereka yang bermaksud tidak baik terhadap dirinya itu. Dan tentang pertolongan Tuhan di hari Akhirat, ialah kemaafan Tuhan dari kejahatan yang telah dilakukannya serta menerima segala amal kebajikan yang telah dilakukannya selama ini.

Hai Abu Hurairah! Segeralah pagi-pagi beramal pada jalan Allah niscaya Allah menghampirkan rezeki-Nya untuk engkau.

Hai Abu Hurairah! Hubungkanlah kasih saying antara sesamamu, niscaya rezekimu berdatangan dari jurusan yang tidak terduga. Dan pergilah naik haji ke rumah Allah (Baitullah), niscaya Allah mengampuni dosamu walaupun separuh tanah Haram (Mekkah).

Hai Abu Hurairah! Merdekakanlah hamba sahaya, niscaya Allah membebaskan anggota tubuh engkau (dari sentuhan api neraka) dengan tiap-tiap anggotanya, dan engkau akan beroleh derajat yang berlipat ganda.

Hai Abu Hurairah! Kenyangkanlah orang yang lapar, niscaya engkau beroleh pahala sebanyak kebajikan yang telah dilakukannya, dan kebajikan-kebajikannya setelah ia kenyang: tetapi tidak ada sesuatu pun keburukan-keburukan yang dilakukannya yang akan menimpa engkau.

Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau pandang rendah sesuatu perbuatan yang makruf yang engkau kerjakan. Dan walaupun engkau menuangkan timbamu yang berisi air ke dalam bejana orang yang kehausan, maka hal itu adalah suatu perkara kebajikan, dan kebajikan itu besar maupun kecil ganjarannya adalah surga.

Hai Abu Hurairah! Perintahkanlah keluargamu mengerjakan shalat, karena Allah Swt. Mendatangkan rezeki kepadamu dari jurusan yang tak disangka-sangka. Dan janganlah ada di rumahmu jalan tempat masuk bagi Setan.

Hai Abu Hurairah! Apabila bersin saudaramu sesama muslim, maka tasymit doakanlah dia (apabila orangnya membaca Al-Hamdulillah terlebih dahulu).

Untuk itu bagimu telah ditentukan duapuluh pahala kebajikan. Aku (Abu Hurairah) bertanya: “Demi ayahku, engkau dan ibuku, bagaimana bias demikian?” Nabi menjawab: “Sesungguhnya di kala engkau mengucapkan kepadanya: “Yarhimakallah” (Semoga Tuhyan memberi rahmat kepada engkau) dituliskan untukmu sepuluh kebajikan, dan di kala engkau mengucapkan kepadanya: “Yahdikallah” (Semoga Tuhan memberi petunjuk padamu), maka dituliskan untukmu sepuluh pahala kebajikan lagi.

Hai Abu Hurairah! Hendaklah engkau minta ampunkan kaum muslimin dan muslimat, mikminin dan mukminat, karena mereka semua dapat mendorong syafaat bagi engkau kelak, dan engkau akan beroleh pahala seperti pahala yang akan didapat mereka tanpa kurang sedikit pun juga.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau ingin terpandang di sisi Tuhan, terpandang sebagai teman Allah, maka percayalah kepada semua Rasul Allah dan para Nabi Allah serta semua Kitab-Nya.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau berharap agar tubuhmu diharamkan dari sentuhan api neraka, maka acala di kala pagi dan petang: . . . “Tidak ada Tuhan selain Allah sendiriNya, tidak ada sekutu bagiNya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah!

Hai Abu Hurairah! Tidak halal bagimu masuk ke tempat orang yang sedang berada dalam sekaratul maut sekalipun ia seorang Nabi sehingga ia mengajarkan terlebih dahulu kepada orang itu kalimah syahadah: Laailaha illallah.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang mengajarkan (mentalkin)kan kepada orang yang sakit dalam sekaratul maut klimah syahadah “Laailahaa illallah wahdahu la syarikalah”, sehingga kalimat itu diucapkan pula oleh si sakit, maka ia akan beroleh sekalian kebajikannya. Tetapi apabila si sakit tidak mengucapkan kalimah syahadah itu, maka ia akan beroleh pahala kebajikan orang yang memerdekakan budak dengan kalimah “Laailaha illallah” yang telah diucapkannya terhadap si sakit.

Hai Abu Hurairah! Talkinkanlah orang yang akam mati dengan syahadah: Laaila illallah Rabbigfirli, maka kalimah itu akan meruntuh-ratakan segala dosa.

Aku (Abu Hurairah) bertanya: “Ya Rasul Allah! Ini adalah untuk orang yang akan mati, maka bagaimana terhadap orang yang masih hidup?” “Dia tentu lebih meruntuh-ratakan lagi dosa itu” jawab Rasulullah.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau mampu menurunkan hujan dari langit dengan melakukan shalat dua raka’at (Istis’qa), maka engkau akan beroleh pahala kebajikan-kebajikan sebanyak tetesan air hujan yang turun dari langit, dan sebanyak helai daun yang tumbuh akibat hujan itu.

Hai Abu Hurairah! Sedekahkanlah air, karena tak seorang pun yang berwudhu’ dengannya melainkan engkau memperoleh kebajikan seperti yang diperolehnya sendiri, tanpa kurang sedikit pun juga.

Hai Abu Hurairah! Tahukah engkau bahwa seseorang lelaki diampuni Tuhan dosanya, hanya karena ia telah menanam rumput hijau, kemudian datanglah binaang sehingga rumput itu dimakannya.

Hai Abu Hurairah! Ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik, niscaya engkau beroleh bagahia pada hari Kiamat.

Hai Abu Hurairah! Jenguklah orang miskin yang kafir maupun muslim! Maka jika engkau jenguk orang miskin yang kafir, niscaya Allah memberi rahmat keapdamu. Adapun pahalamu jika engkau menjenguk muslim yang miskin, maka tak dapat saya melukiskan kebaikannya.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau berada dalam lingkungan keluarga ayamu, ibumu ataupun anakmu, maka tak boleh engkau menyedekahkan hartanya kecuali dengan izinnya.

Hai Abu Hurairah! Tidak halal bagimu harta istrimu yang telah engkau berikan kepadanya, kecuali sesuatu yang diberikanya keapdamu dengan sukarela tanpa engkau minta. Demikian, karena firman Allah yang artinya berbunyi: “Maka jika mereka (istri) itu berbuat baik kepadamu dengan memberikan sesuatu miliknya kepadamu, maka makanlah dengan lezat dan puas.” (An-Nisa’:4).

Hai Abu Hurairah! Katakanlah kepada kaum istri, bahwa tidak halal bagi mereka menyedekahkan sesuatu benda yang ada dalam rumah suami mereka, kecuali segala sesuatu yang basah (Tak tahan lama: Pisang, pepaya dll) yang mereka khawatirkan rusak-busuknya bila suaminya tidak ada di rumah.

Hai Abu Hurairah! Ajarkanlah sunnahku kepada manusia, niscaya wajahmu beroleh nur cahaya yang terang bederang pada hari Kiamat yang girang-gembira melihatmu baik orang-orang yang dahulu maupun orang yang kemudian.

Hai Abu Hurairah! Jadilah engkau muadzin atau Imam! Karena bila engkau angkat suaramu di waktu adzan niscaya suaramu itu naik membubung tinggi sampai ke Arasy; maka tidak melewati suaramu akan segala sesuatu, melainkan tiap-tiap suara beroleh sepuluh kebajikan. Dan apabila engkau bertindak menjadi Imam, engkau akan beroleh pahala sebanyak pahala orang yang sembahyang menjadi makmum di belakang engkau tanpa dikurangi sedikit pun juga, kecuali jika engkau menjadi Imam yang berkhianat. Aku (Abu Hurairah) bertanya: “Hai Rasul Allah! Bagaimana Imam yang berkhianat itu?” Rasul menjawab: “Apabila engkau menkhususkan doa hanya untuk engkau sendiri tanpa menyertakan mereka, maka berarti engkau telah mengkhianati mereka”.

Hai Abu Hurairah! Ajarkanlah anak-anak keluargamu dengan lisanmu agar supaya mereka mengerjakan shalat dan bersuci. Tetapi apabila mereka telah sampai berumur sepuluh tahun, maka lecutlah, akan tetapi jangan sampai melebihi tiga kali.

Hai Abu Hurairah! Perhatikanlah nasib Ibnu Sabil! (pelajar-pelajar, perantau-perantau yang terlantar hidupnya). Maka bawalah ia ke rumahmu atau ke rumah sanak familimu, niscaya engkau ditemani para malaikat waktu engkau menyeberangi Shiratal Mustaqim.

Hai Abu Hurairah! Temanilah duduk kaum fakir-miskin, karena rahmat Allah tidak terjauh dari mereka sekejap mata pun.

Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau sebarkan duri di jalanan yang dilewati kaum muslimin untuk menyakiti mereka. Karena barangsiapa yang menyakiti kaum Muslimin di jalan-jalan yang dilalui mereka, maka ia akan dicaci-maki oleh orang Islam dan semua para malaikat.

Hai Abu Hurairah! Bila engkau bertemu dengan suatu rintangan (lubang) di jalan, maka timbunlah dengan tanah, niscaya Allah menutupi dosamu di hari Kiamat.

Hai Abu Hurairah! Apabila engkau membimbing orang buta, maka peganglah tangan kirinya dengan tangan kanan engkau, dan itu berarti suatu sedekah.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang berjalan satu mil dengan menuntun orang buta, maka ia akan beroleh pahala setiap hasta yang dilangkahkannya sampai kelak Allah Swt. Memperdengarkan kepadanya apa yang menggembirakannya pada hari Kiamat.

Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau turut menuntun orang Yahudi ke Synagog (rumah ibadah)nya, jangan pula orang Nasrani ke Gerejanya, orang Sabiin ke Kuilnya, orang Majusi ke rumah api (Klenteng)nya dan orang Musyrik ke rumah berhalanya, maka kalau engkau berbuat demikian, niscaya dituliskan Tuhan bagimu kesalahan seperti dosa-dosa mereka sampai ia kembali pulang dari tempat-tempat tersebu.

Hai Abu Hurairah! Bimbinglah para hamba Allah ke Masjid-masjid Allah, ke tanah suci dan ziarah ke kuburku, niscaya engkau akan beroleh pahala seperti pahala-pahala yang didapat mereka tanpa kurang sedikit juga.

Hai Abu Hurairah! Sampaikanlah kepada kaum wanita, bahwa mereka tak usah ziarah ke kuburku, tetapi kewajiban mereka adalah melakukan ibadah haji ke Baitullah, yakni apabila ada mahramnya, dan kalau tidak demikian, maka mereka tak boleh pergi. Aku (Abu Hurairah) bertanya: “Ya Rasul Allah, sekalipun wanita itu telah merupakan tunggul pohon (tak ada daya tariknya)?” “Ya, sekalipun wanita itu telah merupakan tunggul pohon yang tak ada daya tariknya lagi,” jawab Rasulullah.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau mampu berbuat, bahwa janganlah ada hendaknya seorang zalim pun yang dapat berbuat terhadap dirimu, baik dengan tangan maupun dengan lisannya. Aku sengan bila engkau dapat bersikap demikian. Silakan!

Hai Abu Hurairah! Janganlah ada seseorang pun di antara para pemimpin (pemerintah)mu kecuali ia seorang yang adil sebagaimana engkau sendiri bersikap adil. Tetapi jika engkau telah bersikap adil, padahal tetanggamu tidak, adalah engkau temannya dalam dosa, tetapi tidak menjadi temannya dalam pahala.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau mempunyai harta benda yang telah wajib dizakatkan, maka keluarkanlah zakatnya.
Maka apabila harta itu ditimpa suatu bencana dan engkau telah mengeluarkan zakatnya satu kali, maka memadailah itu sampai hari kiamat.

Hai Abu Hurairah! Apabila engkau bertemu dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka janganlah engkau jabat tangannya selagi dalam keadaan berwudhu’. Maka jika engkau berbuat demikian ulanglah wudhu’mu kembali.
Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau panggil seseorang itu dengan kata-kata: Yahudi, Nasrani, dan Majusi, tetapi sebutlah dia dengan namanya masing-masing, karena demi Allah, engkau berarti telah menghinanya dengan sebutan yang demikian itu. Tetapi sebaliknya juga tidak halal bagimu memuliakannya sedemikian rupa, karena bagi mereka cukup perjanjian dan jaminan, bahwa harta mereka tidak akan diambil kecuali dengan kerelaan hati mereka sendiri. Janganlah engkau masuki rumah-rumah mereka kecuali dengan izin mereka, dan jangan engkau berada di tengah-tengah mereka dan anak-anak mereka, dan janganlah dikhianati mereka dalam urusan wanita mereka. Demikianlah ajaranku kepadamu agar kamu mengerti tentang petunjuk agama.

Hai Abu Hurairah! Apabila engkau bersunyi diri berbicara berduaan dengan orang Yahudi, Nasrani ataupun Majusi, maka tidak halal bagimu berpisah sebelum engkau mengajaknya ke dalam agama Islam.

Hai Abu Hurairah! Janganlah sekali-kali engkau bertengkar dengan salah seorang di antara mereka, karena barangkali ia akan mengemukakan kepadamu sesuatu ayat yang turun dari langit, khawatir engkau akan mendustakannya, atau sebaliknya engkau mengemukakan pula sesuatu firman Allah, maka dia mendustakan engkau pula. Tidak ada pembicaraanmu yang lebih baik kecuali engkau menyerunya kepada Islam. Demikianlah yang dimaksud oleh firman Allah: “Debatlah mereka itu dengan cara yang lebih baik.” (An-Nahl: 125), yakni mengajak mereka supaya menganut agama Islam.

Hai Abu Hurairah! Sembahyanglah engkau dengan memakai kain yang sama, baik engkau sebagai Imam aaupun sebagai makmum, sekalipun kain itu kasar.

Hai Abu Hurairah! Adakah engkau ingin beroleh pahala seperti pahalanya kaum Syuhada’ perang Badar? Cobalah perhatikan seorang muslim yang tidak mempunyai pakaian yang akan dipakainya ke Masjid pada hari Jum’at, maka pinjamilah dia atau berikanlah kain itu kepadanya.

Hai Abu Hurairah! Inginkah engkau untuk tidak mendengar raungan suara api neraka dan tidak sampai kepadamu jilatan api neraka itu? Maka bantulah orang-orang yang mengharapkan pertolongan, karena bahaya kebakarankah, kecuriankah, kebanjirankah atau karena keruntuhan rumah.

Hai Abu Hurairah! Selamatkanlah seseorang dari mara bahaya dan kesusahan hidup niscaya engkau akan terlepas daripada kedukaan pada hari Kiamat.

Hai Abu Hurairah! Berjalanlah kepada orang yang berutang kepadamu dengan membawa haknya niscaya engkau diiringkan para malaikat dengan memberi salawat kepadamu.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang diketahui Allah, bahwa ia telah berhasrat membayar utangnya, niscaya Allah memberi rezekinya dengan tidak terduga, dan Allah mempersiapkannya untuk dapat membaya utangnya itu selagi ia hidup atau sesudah matinya.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang beroleh karunia harta benda yang halal dan ia keluarkan zakatnya, kemudian harta itu diwariskannya depada pewaris-pewaris sepeninggalnya, maka segala sesuatu kebajikan yang diperbuat oleh para warisnya itu dengan mempergunakan harta peninggalannya itu, akan diperolehnya pahalanya sama seperti yang di dapat oleh pewarisnya itu dengan tidak kurang sedikit pun juga.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang menuduh (memfitnah) orang mukmin yang sudah beristri ataupun bersuami melakukan perzinaan, dia akan dikurung pada hari kiamat dalam sebuah lembah “Khabal” sampai dia mampu menunjukkan bukti dari apa yang telah ducapkannya. Aku (Abu Hurairah) bertanya: “Ya Rasul Allah apakah lembah “Khabal” itu?” Beliau menjawab: “Sebuah lwmbah yang terletak dalam neraka jahanam di mana mengalir nanah dan apa-apa yang keluar dari rongga mereka.”

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang mati dalam keadaan berutang, dan ia meninggalkan perjanjian tentang itu tetapi diingkari oleh para pewarisnya tanpa alas an, padahal Allah tidak melihat tanda-tanda bahwa ia tidak bermaksud untuk membayar utangnya itu, maka hal itu akan merupakan kisas yang akan diambilakan dari kebajikan-kebajikannya pada hari kiamat nanti.

Hai Abu Hurairah! Orang yang terbunuh dalam perang Sabilillah akan diampuni sekalian dosanya, kecuali utang atau menuduh tanpa bukti orang mukmin yang sudah bersuami atau beristri, melakukan perbuatan zina.

Hai Abu Hurairah! Semua dosa merupakan kedukaan pada hari Kiamat. Seringkali dosa itu membawa banyak penyesalan yang berbekas. Dan tak ada dosa seorang muslim yang lebih lama penyesaannya dari pda dosa kezaliman tentang perkara darah, harta benda atau kehoramtan diri.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa melakukan sesuatu kezaliman yang demikian itu, ia tobat kepada Allah sebelum ia mati, menyerah dan merendahkan dirinya kepada Allah dan tak ada lagi kezalimanya itu pada dirinya di kala itu, maka menjadi tanggungan Tuhanlah untuk merelakan orang yang telah disakitinya pada hari kiamat.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau disakiti (dizalimi) oleh seseorang, maka janganlah engkau siarkan dan jangan engkau perdengarkan kepada orang banyak, dan jangan engkau beritahukan hal ihwal pribadi orang itu kepada mereka, kalau demikian halnya tentu engkau dengan orang itu sama saja keadaannya.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang suka memberi maaf atas dosa penganiayaan, kecil ataupun besar, maka pahalanya tersedia di sisi Tuhan. Dan barangsiapa pahalanya tersedia di sisi Tuhan, maka ia termasuk golongan mereka yang dihampiri oelh Tuhan, yakni mereka yang akan masuk surga dari jurusan pintu mana saja ia sukai.

Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau mengancam mempertakut-takuti seseorang makhluk Allah, niscaya nanti engkau dipertakut-takuti pula oleh para malaikat Tuhan di hari Kiamat.

Hai Abu Hurairah! Apakah engkau mengharapkan rahmat Allah di kala hidup, di kala mati, di kala berada di dalam kubur, dan di waktu hari berbangkit? Maka bangunlah di tengah malam sunyi dan sembahyanglah engkau memeohon rela Tuhanmu. Kemudian bangunkanlah keluargamu agar mereka juga melakukan shala. Apabila mereka telah selesai, mereka berganti membangunkan (untuk shalat subuh). Karena ingatlah, apabila engkau melewati malam tiga saat, siang tiga saat dan di rumahmu terdapat orang-orang yang menyembah Allah belaka, niscaya engkau berolah pahala seperti yang mereka peroleh juga.

Hai Abu Hurairah! Lakukanlah shalat pada segenap tempat yang bersih di dalam rumahmu, niscaya rumahmu kelihatan bercahaya dari langit seperti halnya cahaya binatang-binatang gemerlapan di langi yang tampak kelihatan bagi penduduk bumi.

Hai Abu Hurairah! Berilah makan pagi dan petang para karib kerabatmu yang membutuhkannya, niscaya engkau beroleh saham yang penuh dalam segala kebajikan yang dibagi-bagikan Allah di antara para wali dan kekasihNya di dunia dan di akhirat.

Hai Abu Hurairah! Sayangilah sekalian makhluk Allah, niscaya Allah menyayangi engkau dari sentuhan api neraka pada hari Kiamat. Aku (Abu Hurairah) menukas: “Ya Rasul Allah! Aku sungguh kasihan kepada lalat yang jatuh ke dalam air”. Maka Rasulullah berkata: “Semoga Tuhan menyayangi engkau!”

Hai Abu Hurairah! Apabila engkau mendapat musibah, maka relalah dengan apa yang telah didatangkan Tuhan itu, dan hendaklah ditunjukkan kepada Tuhan, bahwa pahala musibah lebih engkau sukai dari musibah itu sendiri, niscaya kelak Allah memberi engkau keampunan, rahmat dan petunjuk-Nya.

Hai Abu Hurairah! Bujuk hiburlah orang yang sedang kerusuhan sebagaimana engkau sendiri juga ingin dihibur dan ingatlah, bahwa pahala yang telah disediakan Allah atas sesuatu musibah diberikan pada setiap langkah yang engkau langkahkan untuk memerdekakan budak (hamba sahaya).

Hai Abu Hurairah! Apabila bertemu dengan sekelompok wanita, maka janganlah engkau lebih dahulu mengucapkan salam kepada mereka. Tetapi jika mereka mendahului memberi salam kepadamu, maka jawablah salam mereka kembali.

Hai Abu Hurairah! Apabila seorang muslim mengucapkan salam kepada sesame muslim, maka dijawabnya salam itu kembali, niscaya para malaikat memberi salawat kepadanya tujuh puluh kali.

Hai Abu Hurairah! Para malaikat tercengang heran melihat orang Islam yang bertemu sesamanya, tetapi tak ada sorang pun yang mengucapkan salam.

Hai Abu Hurairah! Menyawab salam itu adalah suatu perkara di antara perkara-perkara surga, dan salam itu adalah lembang kehormatan penduduk sorga.

Hai Abu Hurairah! Jadilah pagi dan petang lidahmu basah karena menyebut nama Allah, niscaya tidak ada dosa kesalahanmu pada pagi hari dan petangnya itu.

Hai Abu Hurairah! Sesungguhnya kebajikan-kebajikan itu melenyapkan segala kejahatan, sebagaimana halnya air membersihkan segala kotoran.

Hai Abu Hurairah! Tolonglah sudaramu dan tutuplah aurat (aib) saudaramu sebelum ia dihadapkan kepada Sultan (penguasa) untuk menjalankan sesuatu undang-undang hukum Allah. Jauhilah menyertainya dengan dirimu sendiri dan harta bendamu. Karena barangsiapa yang beroleh syafaat (kelonggaran) untuk tidak menjalankan undang-undang Allah, maka ia akan mendapat bencana. (HR. Ibnu Arabi).


artikel diambil dari http://m-irsyad.blogspot.com .... semoga memberi manfaat kepada semua..... sekian dulu dari saya.... assalamualaikum....

darurat atau mencari keberkatan??


Bismillahirrahmanirrahim.....

dalam kehidupan ni, adakalanya banyak perkara yang kita anggap darurat... tp, masih banyak alternatif lain sebenarnya... cuma nak xnak je... semoga, kita semua dapat menjaga batas dalam segala segi di samping mencari keredhaan Allah... diharap, artikel dibawah dapat memberi kefahaman kepada kita....


“Tak apa ke ni?” suami bertanya sambil merenung ke anak mata saya, meminta jawapan pasti.

“InsyaAllah, As ok..” balas saya. Si kecil Husna, terus leka bermain. Manakan dapat dia memahami resah dan debar yang sedang membelenggu jiwa ayah dan ummi.

“Rasanya, lambat lagi ni. Lagipun, tempat kuliah abang malam ni tak berapa jauh kan…abang pergilah. Kasihan pula para jemaah yang menunggu,” saran saya dengan nada memujuk bertujuan menenangkan debar dan ragu.

Sembilan bulan berlalu, dan hasil pemeriksaan doktor sewaktu rawatan antenatal petang tadi menunjukkan kemungkinan untuk saya melahirkan pada malamnya. Saya sendiri tidak menduga secepat itu, lantaran tarikh jangkaan akan tiba beberapa hari sahaja lagi. Tambahan pula, saya lansung tidak mengalami rasa sakit yang mengganggu, sama sekali tidak sama seperti pengalaman melahirkan anak pertama lebih kurang dua tahun yang lalu.

Namun, ketentuan Allah mengatasi segala andaian dan jangkaan manusia. Bermakna, dalam tempoh beberapa jam sahaja, saya dan suami bakal menimang cahaya mata kedua.

Kerana itu suami agak keberatan untuk pergi. Bimbang, saat ketiadaannya, saya akan melahirkan tanpa sesiapa di sisi. Lebih-lebih lagi, doktor yang merawat menyarankan agar saya segera masuk ke wad bersalin sebaik selesai pemeriksaan petang tadi.

PRIHATIN AURAT
“Kalau macam tu, As rehat dulu..tak payah buat kerja-kerja lain. Selesai je kuliah, abang terus balik ke rumah. As ready ya,” suami berjanji. Masih dengan debaran yang belum reda.

Saya tersenyum. Rasa kasih menjalar ke sanubari melihat belas yang ditunjukkan suami. Betapa saya bersyukur memiliki suami yang amat prihatin sepertinya. Sejak dari anak pertama lagi, beliau tidak pernah gagal menemani saya ke klinik untuk rawatan dan pemeriksaan antenatal.

Juga, seperkara yang tidak mungkin saya lupa, kesungguhan dan ketegasannya menjaga aurat seorang isteri.

Walau dalam keadaan kewangan yang begitu sederhana, dengan hanya suami seorang bekerja, sementara saya masih bergelar surirumah sepenuh masa, beliau tetap berusaha dan memastikan saya beroleh rawatan terbaik dari ‘sentuhan’ tangan seorang doktor perempuan. Doktor Muslimah, pastinya satu keutamaan.

Lantaran itu, beliau sanggup mengeluarkan peruntukan yang lebih untuk mendapatkan khidmat rawatan dari hospital swasta Islam. Padanya, biar berlebih sedikit mengeluarkan duit, asal hukum berkait aurat isteri tetap terpelihara dan terlaksana.

Dan pada kandungan kali ini, merupakan yang kedua kalinya saya akan melahirkan di Pusat Rawatan Islam Kohilal di Taman Melawati. Memandangkan jarak di antara pusat rawatan ini dengan rumah kami di Taman Sri Gombak tidak berapa jauh, hanya mengambil masa beberapa minit sahaja, juga harga bagi pakej bersalin yang ditawarkan amat berpatutan dengan mutu perkhidmatan yang baik dan meyakinkan.

MENGAMBIL MUDAH
Peristiwa di atas telah lama berlalu. Anak kedua yang dilahirkan juga telah genap berusia sembilan tahun pada 26 Jun yang lalu. Dan, dengan rezeki dan kurniaan dari Allah, cahayamata ketiga dan keempat yang menyusul selepas itu juga selamat melihat dunia dengan doktor dan jururawat Muslimah yang menyambut ‘ketibaan’ mereka.

Alhamdulillah.

Namun…

Perasaan saya berbaur. Terkilan, kesal dan sedih yang amat bila menerima dan membaca emel yang diterima dari seorang wanita. Beliau ingin meminta pendapat dan pandangan saya mengenai seorang ahli keluarganya, yang bergelar seorang ustazah, tetapi masih terus mendapatkan rawatan dan pemeriksaan bulanan kandungannya daripada doktor berlainan jantina.

Walau telah ditegur dan dinasihati memandangkan beliau dan suaminya bekerja serta mempunyai pendapatan yang agak besar, tetapi beliau tetap mempertahankan tindakannya dengan menyatakan pendapat bahawa, untuk tujuan perubatan, harus bagi seorang wanita Islam mendapatkan rawatan dari seorang doktor lelaki dan begitu juga sebaliknya. Khidmat rawatan yang diperolehi dari doktor yang sama jantina hanyalah afdal ( lebih baik ) sahaja, tidak lebih dari itu. Itu pandangannya.

Allahu Rabbi…dunia hari ini. Mereka yang ‘sepatutnya’ berilmu turut menjahilkan diri.

KERANA DARURAT
“Hari ni ustazah ada satu soalan uji minda untuk kamu semua,” saya berkata dengan wajah ceria. Para pelajar yang duduk sopan di dalam barisan, ramai yang tersenyum girang. Namun tidak kurang juga yang mengerutkan dahi tanda kurang senang. Bimbang soalan yang diberi, payah dan sukar sekali.


Ketika itu, topik yang dibincangkan ialah mengenai makanan yang halal dan haram dimakan. Ia merupakan salah satu tajuk perbincangan dari silibus Pendidikan Islam tingkatan satu.

“Baik…katakanlah suatu masa kamu sesat di dalam hutan. Dah masuk hari ketiga kamu tak makan. Dalam keadaan amat lapar itu, tiba-tiba melintas seekor anak babi. Nampak sedap. Kerana lapar, kamu tangkap anak babi tu dan kamu makan…” saya berhenti seketika memerhatikan gelagat anak murid di hadapan.

Ada yang saling berpandangan, ada yang menahan ketawa dan tersenyum-senyum sendirian. Tidak kurang juga yang mempamerkan riak muka geli geleman.

‘Eeeii…makan babi!’ mungkin itu lintasan di dalam hati.

“Ketika itu, apa agaknya hukum kamu makan babi tersebut?” saya mengajukan soalan. Ingin menguji akal dan pengetahuan para pelajar di hadapan.

“Mana boleh makan babi ustazah..haram,” getus satu suara di belakang.

“Bolehlah…kan keadaan macam tu dikira ‘darurat’. Kalau tak makan, boleh mati,” penuh yakin jawapan seorang pelajar di bahagian tengah.

BOLEHKAH?
Saya tersenyum senang. Jawapan yang diberi menandakan telah ada sedikit maklumat yang mereka fahami dan maklumi.

“Baik. Kita buat undian. Siapa yang kata hukumnya haram?” soal saya. Beberapa pelajar mengangkat tangan. Ada yang mengangkat setinggi yang boleh, menandakan keyakinan terhadap kebenaran jawapan, manakala sebahagiannya nampak malu-malu, hanya menebak dan mengikut kawan.

“Siapa pula yang bersetuju hukumnya boleh sebab darurat?” Sekali lagi saya bertanya. Soalan kali kedua ini memperlihatkan lebih ramai pelajar mengangkat tangan. Jumlah yang ada saya kira.

Hanya segelintir pelajar yang tidak mengangkat tangan pada kedua-dua soalan yang ditanya. Berkecuali. Kurang pasti barangkali.

“ Apa jawapannya ustazah?” Terdengar satu pertanyaan dari seorang pelajar di hadapan. Melihat sinar mata mereka, bagai menggambarkan rasa teruja dan tidak sabar untuk mengetahui jawapan sebenar.

“Jawapannya, mestilah haram…tak boleh..,”saya menjawab ringkas. Riuh rendah seketika suasana kelas bila mendengar jawapan yang tidak terduga itu.

Sengaja saya biarkan begitu, untuk melihat reaksi seterusnya. Kelihatan ramai yang terpinga-pinga. Tidak kurang juga yang ketawa gembira. Mungkin tak menyangka, jawapan ‘sekadar teka-teka’ mereka mengena.

BUKAN DARURAT
Senyuman di bibir melebar lagi. Saya pasti, baik yang memberikan jawapan haram atau tidak, masing-masing tidak mengetahui sebab sebenar mengapa dalam keadaan sesat di hutan seperti itu, masih juga tidak dibolehkan untuk makan babi.

“Keadaan seperti itu belum dikira darurat lagi. Ini kerana, terdapat banyak binatang lain yang masih boleh dimakan sekadar untuk menutup kelaparan. Siput babi adalah lebih baik dari babi, cacing tanah, pohon kayu, buah dan lain-lain semuanya masih perlu diutamakan dari memakan babi," saya membentangkan hujah agar mereka lebih memahami.

"Bukankah di hutan terdapat pelbagai benda yang boleh dimakan yang jauh lebih baik dari babi?" Saya menambah.

“Oleh kerana itu, tidak harus jika kamu yang sedang sesat ingin makan babi juga hanya kerana ia lebih sedap, menyelerakan dan gemuk berbanding cacing," tegas saya lagi disambut deraian ketawa semua.

Demikian juga keadaan yang perlu difahami dan disedari dalam situasi rawatan dan perubatan.

DARURAT YANG SEBENAR
Saya maklum bahawa di dalam keadaan darurat seseorang itu diharuskan melakukan sesuatu yang dilarang, sesuai dengan kaedah fiqhiyyah, ad-dharurat tubiihul mahdzurat. Contohnya, di dalam perubatan, bila berlaku hal-hal mendesak dan kecemasan, lebih-lebih lagi yang bersangkut nyawa dan kesakitan yang boleh melarat tanpa rawatan segera, dan keadaan tersebut tidak mungkin dihindari, juga tiada alternatif lain ketika itu, maka dibolehkan seorang doktor lelaki merawat pesakit perempuan, dan begitu juga sebaliknya.

Syeikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah, bekas Mufti Besar Arab Saudi, juga pernah menegaskan :

"Doktor wanita hanya merawat wanita sahaja, dan doktor lelaki hanya merawat lelaki sahaja, melainkan di dalam kes yang darurat, jika seseorang lelaki yang menghidapi penyakit di mana pada masa itu tidak kedapatan doktor lelaki, maka di dalam kes ini adalah dibenarkan.” ( Fataawa 'Aajilah li Mansuubii al-Sihhah, m.s. 29 )

Situasi darurat yang membolehkan keadaan rawatan sedemikian juga berlaku di zaman Rasulullah SAW sendiri di mana para wanita Islam memainkan peranan sebagai jururawat di medan peperangan. Mereka ditempatkan di bahagian logistik dan juga perawatan. Mereka merawat dan mengubati anggota tentera yang luka dan parah.

Dalam kondisi sebegini, tidak dapat tidak, pasti berlaku sentuhan kulit dan anggota lainnya, namun hal ini dibolehkan ketika itu, untuk sementara waktu, kerana sifat peperangan yang darurat dan mencemaskan.

Selain itu, di dalam kitab Fathul Qadir jilid 8 halaman 98 ada menyatakan bahawa seorang sahabat Nabi SAW bernama Abdullah ibnu Az-Zubair pernah mengupah dan membayar khidmat seorang wanita tua yang merawat dirinya.

HILANG
Wajar difahami, bahawa kondisi darurat bukanlah sesuatu yang rutin dan berlaku setiap hari. Justeru, ia hanya bersifat sementara dan perlu diisi sekadarnya sahaja. Tatkala sebab yang menjadikan sesuatu itu darurat, telah luput dan hilang, maka hukum pengharamannya kembali semula.

Ini bersesuaian dengan satu lagi kaedah fiqhiyyah: ad-dharurat tuqaddar bi qadariha, iaitu sesuatu yang darurat itu harus diukur sesuai kadarnya.



Lantaran itu, bagi seorang perempuan yang mengandung, dalam situasi biasa tanpa apa-apa komplikasi, keadaan itu bukanlah sesuatu yang ‘darurat’ yang membolehkannya mendapatkan khidmat rawatan dan pemeriksaan bulanan dari seorang doktor lelaki.

Apa yang amat perlu difahami, tidak ada seorang pun yang dihalalkan untuk melihat aurat seorang wanita, kecuali suaminya. Apatah lagi, aurat ‘besar’nya. Maruah, kehormatan dan harga dirinya, semua itu terhimpun di ‘situ’.

Siapa lagi yang lebih layak dan dapat melindungi, kalau bukan seorang lelaki bernama suami?

Tambahan pula dewasa kini, sudah ramai doktor dan pakar sakit puan Muslimah, termasuk doktor wanita bukan Islam di Malaysia. Justeru, apa lagi alasan untuk tetap bermudah-mudah dalam hukum dan terus tegar menerima rawatan dari doktor berlainan jantina ?

Pada saya, hanya satu : Tepuk dada, tanyalah iman di dalamnya!

ZURIAT BERKAT
Akhirnya, marilah kita sama-sama merenungi, bahawa Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berdoa, memohon kepada Allah SWT agar diberi rezeki yang barakah.

“Ya Allah, anugerahkanlah keberkatan kepada rezeki kami, dan peliharalah diri kami dari api neraka.”

Anugerah anak dan zuriat adalah salah satu dari sekian banyak rezeki yang diberikan ILAHI. Justeru, tidak dapat dinafi, bahawa jiwa yang insaf dan sedar untuk memelihara hukum dan menjaga kadar keperluan terhadap keringanan yang ada padanya, InsyaAllah akan menjamin hadirnya keberkatan seiring dengan anugerah yang dikurniakan ini.

Moga-moga, dengan keberkatan yang dilimpahkan oleh Allah SWT sewaktu kelahiran seorang anak, akan memudahkan pula segala usaha ibu dan bapa untuk melahirkan zuriat yang soleh dan solehah. Seterusnya, berjaya pula menjelmakan generasi Rabbani yang tetap teguh berpegang kepada ajaran dan panduan ILAHI.

Ameen, Ya Rabbal ‘alameen.

Mencari dan terus mencari cinta Ilahi.

like